Kamis, 12 Maret 2015

BAHAGIAKAH DIA?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Setelah memutuskan, "Ya...Aku bersedia menjadi istrimu mas...", itu menurut saya, merupakan suatu kesepakatan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita. Seiring berjalannya waktu, kita eh...saya (lebih tepatnya) akan lebih tau apa saja tentang seseorang yang sekarang telah menjadi suami saya, baik wataknya, kebiasaannya dan prinsip hidupnya mungkin, serta hal lain tentang dirinya. Bisa jadi hal tersebut kadang tidak sesuai atau mungkin bertentangan dengan kebiasaan atau prinsip hidup kita...eh...saya maksudnya. Yang saudara kandung saja, bisa beda watak kan?

Keluarga yang damai, tentram dan harmonis adalah idaman kita semua pastinya. Tapi ada kalanya kita tidak seiring sejalan dengan pasangan kita itu adalah hal yang wajar. Perbedaan yang sebenarnya adalah warna di dalam rumah tangga, janganlah selalu kita posisikan sebagai perbedaan, namun sebagai warna yang akan menghiasi rumah tangga kita sehingga menjadi indah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang kita eh..saya pribadi merasakan jengkel, marah dan sedih ketika maksud dari apa yang saya sampaikan untuk teman atau suami saya misalnya, ditanggapi dengan ketus atau marah. Biasanya saya hanya diam dan ujung-ujungnya mewek..hiks...saya bukanlah orang yang cukup berani dan tangguh untuk mengungkapkan atau menyangkal perkataan orang lain yang mungin tidak sesuai dengan hati saya. Entahlah...dari dulu...Saya mencoba untuk belajar lebih berani tampil, tetep saja susah. Inilah salah satu alasan saya mempunyai blog ini. Jadi, apa yang saya rasakan dapat saya sampaikan dan tulis di blog ini.

Tujuan menikah diantaranya adalah memperoleh keturunan. Hampir enam tahun kami menikah, namun sampai dengan hari ini, Allah SWT belum menitipkan momongan di dalam rumah tangga kami. Saya positive thinking saja, Allah akan memberikannya di saat yang tepat. Saya yakin itu dan kalau Allah SWT sudah berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa menghalangi. 

Nah...inilah pokok pembahasan di posting kali ini, selama hampir 6 tahun menikah dengan saya, bahagiakah suami saya? Terus terang, bukan kali ini saja pertanyaan itu muncul di benak saya, sudah dari dulu bahkan. Tapi, lagi lagi...saya tidak punya cukup keberanian untuk bertanya kepada pak suami. Saya sadar, banyak sekali kekurangan-kekurangan saya, sehingga memunculkan pertanyaan itu di benak saya. Saya belum bisa menjadi seorang "ibu" dari anak kita, saya terkadang masih cerewet (suami saya menyebut dengan istilah ceriwis), saya yang masih kurang sabar, banyak deh... tidak perlu saya tulis satu per satu. Sabar, itu yang paling susah. Sebenarnya maksud saya cerewet disini adalah untuk kebaikan kita bersama. Seperti contohnya, saya lebih suka mengembalikan barang kembali ke tempat semula setelah saya pergunakan. Itu dimaksudkan untuk apabila nanti nyari lagi kan gampang tuh, gak bingung-bingung sebelumnya dipake siapa dan ditaruh dimana. Nah, kalau menurut orang lain beda lagi mungkin. Contoh lain misalnya, setelah kita mandi, pakaian kotor langsung saya angkat dari gantungan di kamar mandi dan saya letakkan di tempat cucian. Ini bertujuan agar tidak menjadi tempat nyamuk dan kamar mandi jadi bersih. Tapi tidak semuanya berpikiran seperti itu, disinilah kadang saya memberikan masukan kepada teman atau saudara saya. Sudah pasti, responnya tidak seragama atau sama dengan saya, ada yang bilang itu ribet, ada juga yang mengatakan bahwa itu kikrik (hampir sama kali ya, ribet sama kikrik). Ya mungkin mereka punya alasan sendiri. Hal ini kalau saya sampaikan ke pak suami, dia punya jawaban sendiri juga. Tapi terus terang, teruss terang....saya jengkel juga kadang. Seberapa beratnya sih, membawa pakaian kotor keluar dari kamar mandi?

Selanjutnya, cara berbicara atau cara menyampaikan sesuatu hal antara satu orang dengan orang lain itu berbeda-beda. Tapi yang perlu kita ingat, sebelum kita berucap, kita pikirkan dulu, apakah perkataan kita pantas? Apakah perkataan kita menyinggung orang lain? perlulah kita timbang - timbang dulu sebelum berucap. Jangan sampai membuat orang lain sakit hati. Nah, ketika sakit hati seperti itu, lagi deh..mewek dan saya ngumpet, Dada saya ini serasa penuh sesak dan sakiiit banget. 

Yang terpenting adalah, jangan pernah kita lepas untuk selalu berdo'a, beristighfar dan memohon keridho'an Allah di setiap perjalanan hidup kita. Jangan lupa juga kita untuk selalu besyukur atas apa yang telah kita peroleh hingga hari ini. Semoga engkau merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita wahai suamiku. Dan Insya Allah kita akan selalu berjodoh hingga di Surga-Nya kelak.   Amien.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Rajabasa, 12 Maret 2015 
Istrimu - Bu Pur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar