Jumat, 13 Maret 2015

NASI BOX = SEGO GUDANGAN

Setelah tadi saya posting mengenai kegalauan saya, sore ini kita akan bahas mengenai acara weekend minggu kemarin, late post gak papa lah ya.... Lha kan ini udah mau weekend lagi. Jadi ceritanya, saya pengen masak nasi gudangan atau urap. Tapi...karena rakyat di rumah saya hanya dua orang, yaitu saya dan pak suami, jadinya bikin sekalian agak banyak untuk hantaran ke ibuk mertua dan kakak-kakak ipar, karena sudah agak lama juga kami gak berkunjung.

Untuk bahan urapnya, saya pakai :
  • 1 ikat bayam
  • Kacang panjang
  • Tauge (saya potong akarnya / buntutnya)
  • wortel (iris seperti batang korek api)
  • Daun kemangi
  • Mentimun 
Semua bahan diatas, setelah disiangi, dicuci lalu direbus. Pada saat merebus bayam dan kacang panjang, saya kasih sedikit garam supaya warnanya tetap hijau segar. Untuk kemangi dan mentimun cukup disiangi dan cuci bersih ya. Kemudian sisihkan.

Lalu untuk bumbunya :
  • 1 butir kelapa muda parut (tapi jangan terlalu muda, pokoknya yang pas buat bumbu urap, biasanya penjualnya lebih tau)
  • 3 buah cabe rawit 
  • 2 buah cabe merah
  • bawang putih
  • kencur
  • daun jeruk
  • garam
  • gula jawa
  • terasi
Haluskan semua bumbu di atas (kecuali kelapa) lalu campur dengan kelapa parut. uleni sampai tercampur rata. cek rasa. lalu bungkus dengan daun pisang dan kukus hingga matang. 
*yang sepiring sama tahu dan tempe itu ikan asin
Sebagai teman dari urap, saya bikin bacem tahu tempe, telur rebus, ikan asin dan kerupuk. Setelah semua matang, tinggal disusun deh di kardus makanan, dan siap meluncur ke rumah ibuk dan kakak-kakak saya.
Saya tambahin pisang sebagai buahnya.
Nah, ini kerupuk dan ikan asinnya.
Maaf ya teman-teman, fotonya kurang oke ya? Mohon dimaklumi aja deh, namanya juga masih belajar, gak papa ya...? Udah sore aja nih, saya siap-siap pulang dulu ya teman-teman, sampai jumpa di posting selanjutnya dan semoga teman-teman tidak bosan membacanya.

Kamis, 12 Maret 2015

BAHAGIAKAH DIA?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Setelah memutuskan, "Ya...Aku bersedia menjadi istrimu mas...", itu menurut saya, merupakan suatu kesepakatan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita. Seiring berjalannya waktu, kita eh...saya (lebih tepatnya) akan lebih tau apa saja tentang seseorang yang sekarang telah menjadi suami saya, baik wataknya, kebiasaannya dan prinsip hidupnya mungkin, serta hal lain tentang dirinya. Bisa jadi hal tersebut kadang tidak sesuai atau mungkin bertentangan dengan kebiasaan atau prinsip hidup kita...eh...saya maksudnya. Yang saudara kandung saja, bisa beda watak kan?

Keluarga yang damai, tentram dan harmonis adalah idaman kita semua pastinya. Tapi ada kalanya kita tidak seiring sejalan dengan pasangan kita itu adalah hal yang wajar. Perbedaan yang sebenarnya adalah warna di dalam rumah tangga, janganlah selalu kita posisikan sebagai perbedaan, namun sebagai warna yang akan menghiasi rumah tangga kita sehingga menjadi indah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang kita eh..saya pribadi merasakan jengkel, marah dan sedih ketika maksud dari apa yang saya sampaikan untuk teman atau suami saya misalnya, ditanggapi dengan ketus atau marah. Biasanya saya hanya diam dan ujung-ujungnya mewek..hiks...saya bukanlah orang yang cukup berani dan tangguh untuk mengungkapkan atau menyangkal perkataan orang lain yang mungin tidak sesuai dengan hati saya. Entahlah...dari dulu...Saya mencoba untuk belajar lebih berani tampil, tetep saja susah. Inilah salah satu alasan saya mempunyai blog ini. Jadi, apa yang saya rasakan dapat saya sampaikan dan tulis di blog ini.

Tujuan menikah diantaranya adalah memperoleh keturunan. Hampir enam tahun kami menikah, namun sampai dengan hari ini, Allah SWT belum menitipkan momongan di dalam rumah tangga kami. Saya positive thinking saja, Allah akan memberikannya di saat yang tepat. Saya yakin itu dan kalau Allah SWT sudah berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa menghalangi. 

Nah...inilah pokok pembahasan di posting kali ini, selama hampir 6 tahun menikah dengan saya, bahagiakah suami saya? Terus terang, bukan kali ini saja pertanyaan itu muncul di benak saya, sudah dari dulu bahkan. Tapi, lagi lagi...saya tidak punya cukup keberanian untuk bertanya kepada pak suami. Saya sadar, banyak sekali kekurangan-kekurangan saya, sehingga memunculkan pertanyaan itu di benak saya. Saya belum bisa menjadi seorang "ibu" dari anak kita, saya terkadang masih cerewet (suami saya menyebut dengan istilah ceriwis), saya yang masih kurang sabar, banyak deh... tidak perlu saya tulis satu per satu. Sabar, itu yang paling susah. Sebenarnya maksud saya cerewet disini adalah untuk kebaikan kita bersama. Seperti contohnya, saya lebih suka mengembalikan barang kembali ke tempat semula setelah saya pergunakan. Itu dimaksudkan untuk apabila nanti nyari lagi kan gampang tuh, gak bingung-bingung sebelumnya dipake siapa dan ditaruh dimana. Nah, kalau menurut orang lain beda lagi mungkin. Contoh lain misalnya, setelah kita mandi, pakaian kotor langsung saya angkat dari gantungan di kamar mandi dan saya letakkan di tempat cucian. Ini bertujuan agar tidak menjadi tempat nyamuk dan kamar mandi jadi bersih. Tapi tidak semuanya berpikiran seperti itu, disinilah kadang saya memberikan masukan kepada teman atau saudara saya. Sudah pasti, responnya tidak seragama atau sama dengan saya, ada yang bilang itu ribet, ada juga yang mengatakan bahwa itu kikrik (hampir sama kali ya, ribet sama kikrik). Ya mungkin mereka punya alasan sendiri. Hal ini kalau saya sampaikan ke pak suami, dia punya jawaban sendiri juga. Tapi terus terang, teruss terang....saya jengkel juga kadang. Seberapa beratnya sih, membawa pakaian kotor keluar dari kamar mandi?

Selanjutnya, cara berbicara atau cara menyampaikan sesuatu hal antara satu orang dengan orang lain itu berbeda-beda. Tapi yang perlu kita ingat, sebelum kita berucap, kita pikirkan dulu, apakah perkataan kita pantas? Apakah perkataan kita menyinggung orang lain? perlulah kita timbang - timbang dulu sebelum berucap. Jangan sampai membuat orang lain sakit hati. Nah, ketika sakit hati seperti itu, lagi deh..mewek dan saya ngumpet, Dada saya ini serasa penuh sesak dan sakiiit banget. 

Yang terpenting adalah, jangan pernah kita lepas untuk selalu berdo'a, beristighfar dan memohon keridho'an Allah di setiap perjalanan hidup kita. Jangan lupa juga kita untuk selalu besyukur atas apa yang telah kita peroleh hingga hari ini. Semoga engkau merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita wahai suamiku. Dan Insya Allah kita akan selalu berjodoh hingga di Surga-Nya kelak.   Amien.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Rajabasa, 12 Maret 2015 
Istrimu - Bu Pur.

Rabu, 11 Maret 2015

SAYUR ASEM BUNCIS



Hai…Hollaaa….Apa kabar teman-teman…….??? Semangat banget ya..? Harus dong…Walaupun kadang kegalauan melanda. Gimana cuaca di daerah teman-teman semuanya? Masih tinggikah curah hujannya? Kita sama-sama berdoa aja ya, semoga kita senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan dan kelancaran di setiap urusan kita.


Well, posting kali ini masih seputar dunia dapur. Iya, saya memang sedang rajin masak dan lumayan rajin juga untuk posting hasil karya saya di dunia “perdapuran” (*abaikan bila tidak sesuai EYD dan KBBI). Sebenarnya ini tuh ada sebab musababnya kenapa sekarang saya jadi rajin masak. Teman-teman tau gak acara R*p**t*s* In*e*t*g*s*? Itu tuh…yang ditayangkan di salah satu stasiun TV Swasta. Nah, di situ kan sering menayangkan mengenai makanan-makanan atau jajanan yang banyak di jual di luar sana dengan memberikan bahan-bahan tambahan yang membahayakan bagi kesehatan kita.

Itu efeknya sangat mengena buat pak suami lho dan do’i request untuk selalu bawa bekal setiap harinya sebagai menu sarapan. Jadi makan di luar tu hanya pas makan siang saja, sarapan dan makan malam menunya made in saya. Seperti halnya saya juga begitu, bawa bekal dari rumah untuk sarapan. Itulah sebabnya mengapa sekarang saya jadi rajin untuk masak. Untuk sama sekali tidak jajan atau makan di luar kayaknya susah, tapi paling tidak mengurangi lah ya…Oh ya, saya pengen kapan-kapan mau posting juga mengenai penyimpanan santan, karena saya beralih dari santan instan ke santan dari kelapa segar atau yang bikin sendiri. Aduh, ini pengantarnya kepanjangan? Maaf ya teman-teman… sebenarnya saya mau posting mengenai sayur asem buncis. To the point aja, kita bahas bahan-bahannya dulu, diantaranya adalah :

  • Daging tetelan ¼ kg, (potong-potong tapi jangan terlalu kecil-kecil)
  • 7 batang buncis (siangi dan potong-potong + 2 cm)
  • 2 buah wortel (kupas dan potong-potong – saya lebih suka potongnya tidak terlalu tipis, klo terlalu tipis, nanti klo udah lunak gampang hancur, sayurnya jadi kurang menggoda) 
*yang dalam kurung itu versi saya ya, itu sebenarnya sesuai selera masing-masing sie, tapi tetep jangan lupa sayur dan dagingnya dicuci bersih dulu.



Untuk bumbunya yaitu :

  • 5 butir bawang merah (iris tipis) 
  • 3 butir bawang putih (iris tipis) 
  • 3 buah cabai merah dan 3 buah cabai hijau (potong + 1 cm) 
  • 3 buah cabai rawit setan (belah tengah) 
  • 2 buah tomat merah dan tomat hijau 
  • Daun salam dan lengkuas 
  • 3 atau 4 biji asem jawa. 
  • Air secukupnya. 
  • Sedikit minyak untuk menumis.

    Langkah-langkahnya :

  • Didihkan air, masukkan daun salam, lengkuas dan biji asem.
  • Kemudian masukkan daging tetelan.
  • Biarkan mendidih hingga agak empuk. Sisihkan.
  • Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum kemudian masukkan cabai.
  • Setelah agak layu, tuang ke dalam panci rebusan daging.
  • Masukkan wortel dan buncis.
  • Kemudian masukkan tomat.
  • Tunggu hingga mendidih, matang dan angkat.
  • Taburi dengan bawang goreng dan siap dihidangkan.


Simple kan teman-teman? Biasanya sebagai teman sayur asem buncis ini, saya goreng tempe dibumbui dengan ulekan garam dan bawang putih. Gimana…? Tertarik gak? Ini pas banget disajikan sebagai menu makan siang, seger deh… Semoga bermanfaat dan semoga teman-teman juga gak bosen baca postingan saya. Selamat mencoba.