Selasa, 27 Januari 2015

SYUKUR NIKMAT

Aku......adalah seorang manusia biasa yang punya hati, dimana dengan mudahnya Sang Maha Pencipta membolak-balikkan hati ini. Tulisan kali ini terseret oleh ajakan kata hati yang beberapa hari terakhir terasa gundah dan tidak tenang. Entah....apa yang membuatku tidak tenang pun aku tak tahu. 

Terlepas dari itu, ada hal lain dimana setiap aku bernagkat kerja untuk mendapatkan rizkiMu, ada sesuatu yang selalu menggelitik hingga membuatku berpikir seiring perjalanan menuju kantor. Setelah kulewati terminal Sisemut dan terus ku laju motorku menuju Taman Unyil, sering sekali aku mendahului bapak-bapak mengayuh sepeda tua-nya dengan berbekal beberapa peralatan tukang bangunan yang ia simpan di tas ranselnya yang telah usang dan dengan jahitan kanan kiri. Ya Allah, itulah pengorbanan seorang ayah yang berusaha mencukupi kebutuhan anak istrinya.

Motor terus ku pacu melewati Taman Unyil. Lalu di depan gedung BPK maju sedikit, ada seorang bapak-bapak berdiri di pinggir jalan sambil membawa sekop, memakai topi yang telah usang, sandal jepit yang disambung dengan tali rafia, melambaikan tangan setiap ada truk pasir yang lewat. Aku tau persis yang dikenakan bapak itu, karena di tempat itu sering macet dan perjalanan jadi padat merayap. Dia adalah seorang buruh/tenaga bongkar muat pasir. Jelas, untuk pendapatan sehari berapa pun dia tidak bisa memprediksikan, karena dia juga tidak tahu, dia "laris" gak hari ini? Atau justru malah "blong" sama sekali. Lagi, ini adalah pengorbanan seorang bapak untuk mencukupi kebutuhan agar dapur tetap mengepul.

Tidak hanya sampai disitu, perjalananku masih jauh. Di depan Makodam Diponegoro, pernah suatu ketika kulihat ada semacam oplet mogok dimana di dalam oplet tersebut ada beberapa penumpang. Tanpa ragu pak sopir turun dan mendorong dari luar pintu sopir sambil berusaha di starter. Dimana penumpangnya? Tetap duduk manis di dalam oplet. Sudah pasti, itu beeraaat banget. Ini contoh lain untuk mencari rizkiMu Ya Allah.

Setelah sampai kantor, kembali aku teringat peristiwa yang kulihat tadi. Ingin rasanya aku menangis dan memarahi diriku ini. Betapa aku kurag mensyukuri nikmat Allah atas apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Betapa aku selalu merasa kurang dan kurang. Betapa aku selalu merasa iri atas apa yang telah diperoleh orang lain. Betapa aku selalu berandai-andai, "seandainya ...seandainya". Astaghfirullahal'adzim....Ampunilah aku ya Allah. Aku yang masih selalu merasa kurang. Aku yang sholatnya tidak tepat waktu. Aku yang kadang masih menggerutu. 

Ya Allah, betapa malunya hambamu ini. Ya Allah...Bimbinglah hamba dan suami hamba di dalam menjalani kehidupan ini,  di dalam keluarga dan masyarakat. Tuntunlah kami untuk selalu berjalan di jalanMu dan menjauhi larangan-laranganMu. Semoga nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami adalah berkah dan tidak menjadikan kami menjadi orang yang sombong dan takabur. Ya Allah, berikanlah kami kesehatan, keselamatan dan ketentraman. Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi umatMu. Robbi Habbli Minassholikhin, berikanlah keturunan yang sholeh dan sholehah di dalam keluarga hamba Ya Allah. Untuk suamiku, maafkan aku bila belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku akan belajar dan terus belajar. Kita sama-sama belajar untuk meraih sakinnah mawahdah warohmah dan Insya Allah kita tetap berjodoh hingga di surgaNya kelak.  Amien.

Ku akhiri posting kali ini. Semoga cerita di atas bisa menginspirasi dan mengingatkan saya untuk selalu mensyukuri nikmatMu. Nikmat yang tiada tara dan tak terhingga. Alhamdulillahirobbil'alamin.

Minggu, 18 Januari 2015

BALADO KENTANG DAN BANDENG BUMBU KUNING

Selamat hari senin teman-teman. Lagi, ini cerita seputar ehm...lebih tepatnya menu yang saya masak ketika hari Sabtu alias weekend kemarin. Gak papa lah ya, sekarang-sekarang ini saya lebih sering berbagi mengenai dunia dapur saya. Ini sebenarnya catatan buat saya juga, karena saya pelupa hehehe...Semoga teman-teman tidak bosan ya. Ingat gak cerita saya sebelumnya disini, saya masih punya stok ikan bandeng. Nah, sabtu  kemarin, ikan bandeng ini akhirnya saya eksekusi (wuiiihhh...bahasanya, eksekusi booo', kayak apaan aja sih..!!). Ini salah satu menu favoritnya pak suami, bandeng bumbu kuning dan balado kentang. Yang pertama kita akan bahas mengenai balado kentangnya lalu dilanjut ikan bandengnya.

Untuk balado kentangnya, bahan utamanya pasti adalah kentang dan bahan lainnya yaitu :
  • 5 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 10 buah cabe merah
  • 1 buah tomat ukuran sedang
  • 10 mata petai
  • Garam
  • Gula merah
  • Daun salam
  • Daun jeruk 
  • Lengkuas
  • Sereh
  • Minyak untuk menumis.
Step by step-nya kayak gini ni : 
  • Kupas kentang dan potong dadu ukuran sedang. (saya suka potongnya tidak terlalu kecil, karena nanti klo udah digoreng kentangnya jadi mimpes alias kisut dan tambah mengecil).
  • Goreng kentang hingga setengah matang dan sudah terlihat kering.
 
  • Angkat dan sisihkan.
  • Rebus bawang merah, bawang putih, cabe, tomat hingga empuk.

  • Setelah direbus, haluskan dan ditambah garam dan gula merah.

  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dan masukkan daun salam, daun jeruk, lengkuas, sereh. 
  • Tumis sampai harum dan airnya sudah menyusut.
  • Masukkan kentang yang sudah digoreng dan petai.
  • Aduk-aduk sampai tercampur rata dan tunggu sampai matang.
  • Angkat, sajikan dan taburi dengan bawang goreng.
  • Ini ni penampilan si balado kentang :


And then....kita bahas soal ikan bandengnya...ikan bandeng termasuk ikan yang berduri banyak dan lembut-lembut durinya. Tapi ikan ini favoritnya pak suami. Semenjak menikah sampai sekarang, setiap saya masak ikan bandeng, selalu saya sayat di bagian tubuh bandeng kanan dan kirinya pada bagian atas, nanti deh saya tunjukin contoh sayatannya hingga si duri itu sudah tidak menjadi masalah lagi saat kita memasak bandeng.

Bahannya :
  •  2 ekor ikan bandeng ukuran sedang, bersihkan sisik, jerohan dan insangnya. Sayat-sayat bagian tubuh bandeng pada sisi kiri dan kanan tubuh bandeng bagian atas sampai tengah (ini bagian yang banyak duri lembutnya). Kemudian lumuri dengan ulekan bawang putih dan garam, rendam kurang lebih 30 menit sebelum digoreng. 
  • kayak gini ni :

Ini lho...soal sayat menyayat yang tadi saya ceritain.
Untuk bumbunya : 
  •  3 siung bawang putih
  • 1/2 sendok teh merica
  • 1 butir Kemiri 
  • Kunyit
  • Garam
Kelima bumbu di atas dihaluskan. 
 
Ini bumbu lainnya :
Tomatnya gak ikut ke foto, maaf...
  • 3 buah cabe merah keriting (belah dan potong)
  • 2 buah cabe hijau keriting (belah dan potong)
  • Tomat
  • Daun Jeruk
  • Daun salam
  • Lengkuas
  • Asem jawa
  • Jahe sedikit digeprek aja
  • Sereh 
  • Garam
  • Gula Pasir
  • Air
  • Minyak untuk menumis
Proses pembuatannya adalah :
  • Ikan bandeng yang telah dilumuri bumbu, digoreng sampai setengah matang angkat dan sisihkan. Jangan terlalu sering dibolak-balik agar tidak hancur.
  • Haluskan merica, bawang putih, kunyit, kemiri dan garam.
  • Tumis bumbu sampai harum, masukkan asem jawa, daun salam, daun jeruk, lengkuas, jahe, sereh. 
Maaf, agak bluur gambarnya, takut klo gosong. Hehehe...
  • Masukkan air sedikit demi sedikit dan jangan terlalu banyak. 
  • Tunggu sampai mendidih masukkan gula pasir.
  • Masukkan ikan bandeng yang sudah digoreng.
  • Masukkan cabe dan tomat.
  • Tunggu sampai mendidih angkat.
  • Sajikan dengan taburan bawang goreng.

Ini dia penampilan dua menu yang kita buat tadi ibu-ibu...Aduh...ini bahasa-nya kayak mandu talkshow masak-memasak aja.


Setiap saya masak ini, pak suami pasti nambah makannya. Selamat mencoba ya teman-teman...Semoga bermanfaat. Kita ketemu di menu selanjutnya. :)

TEMAN DI KALA HUJAN YAITU PANDAN CHIFFON




Weekend kemarin, karena tidak ada acara kemanapun dan pagi-pagi udah gerimis aja, dan kebetulan tidak ada cemilan, bikin apa ya buat teman secangkir teh hangat pas hujan-hujan gini??? Kerjaan rumah udah kelar, sarapan juga udah matang. Pak suami? dimana dia hujan-hujan gini? Pastinya masih bermalas-malasan di tempat tidur bersama leppy-nya. 

Oh ya, saya kan masih punya stok pondan pandan chiffon di lemari. Mari kita kembali berkutat di dapur, bikin cemilan yuk...! Jadi singkat cerita, disini saya mau berbagi mengenai pengalaman membuat cake pandan.

Bahan-bahan nya yaitu :
Ini sebagian bahan yang diperlukan.
  • 1/2 bungkus Pandan Chiffon (saya pakai Pondan) dan saya hanya membuat setengahnya saja, karena pernah saya buat 1 bungkus, meluap melewati batas loyang pada saat dipanggang.
  • 4 butir telur ayam 
  • 200 ml santan (saya pake kara 1 bungkus yang kecil)
  • 3 sendok makan air.


Sekarang cara membuatnya. Sebenarnya ini juga sudah ditulis di kemasan Pondan, tapi gak papa lah ya, saya sampaikan lagi.
  • Kocok telur sampai mengembang + 4 menit dengan mixer dan kecepatan tinggi.
  • Masukkan Pondan sambil terus "dimixer" dengan kecepatan tinggi selama + 10 menit sampai mengembang dan kaku.
  • Setelah itu masukkan air sambil terus dimixer sebentar.
Sampai kaku gini ni, 
jadi yang nempel di kocokan mixer gak netes lagi.


  • Masukkan santan dan aduk menggunakan sodet kue (tanpa mixer).
  • Panaskan oven kemudian siapkan loyang (saya punya-nya cetakan kue bolu), yang alasnya saya lapisi kertas minyak supaya tiidak gosong dan pinggir-pinggirnya saya olesi mentega.
Kayak gini ni, supaya gak gosong hehehe...
  • Tuang adonan cake ke cetakan dan ratakan.
  • Masukkan cetakan ke dalam oven yang telah panas.
  • Oven selama + 30 s/d 45 menit.
  • Setelah matang, keluarkan dari oven dan tunggu sampai dingin, karena saya pengen kasih topping meises.
  • Setelah dingin oles mentega di permukaan cake, taburi dengan meises. 
  • Dan ini tampilannya ..TAARRRRRAAAA...!!!

Ini tampilan tanpa meises. 
Karena di loyang bulat gak cukup, 
 saya tuang sisanya ke loyang persegi.




Yang ini, yang pake cetakan bolu.
Ini yang mau dikirim ke rumah ibu mertua saya.

Semoga bermanfaat dan Alhamdulillah pak suami langsung request kapan-kapan bikin lagi ya ??? Sama request juga minta dibuatin donat. Sekarang ini dulu, tapi mulai deh saya intip-intip resep donat. Okelah pak suami, tunggu ya....Kita buat weekend selanjutnya berteman dengan donat kentang.


Rabu, 14 Januari 2015

GULAI NILA MERAH

Pagi ini, mau masak apa ya buat bekal pak suami? Saya lihat stok bahan di kulkas. Ehm...masih ada 1 ekor ikan nila merah dan 2 ekor ikan bandeng yang sudah saya potong masing-masing jadi 2 bagian. Memang kami, a.k.a saya dan pak suami sama-sama suka mengkonsumsi makanan yang berbahan ikan daripada ayam. Setiap Sabtu pagi, saya diantar pak suami, belanja ke pasar bandarjo - Ungaran, ikan-ikan yang dijual disini segar-segar dan beraneka macam, mulai dari : lele, mujair, nila, gurame, patin, tongkol, blanak, bandeng, bawal, kerapu, kerang, cumi, udang, kepiting lumayan komplit lah. Sepulang dari pasar, biasanya ikan saya bersihkan baik jerohan, kotoran, insang dan sisik (klo sisik dan jerohan kadang udah dibersihkan sama penjualnya). Setelah itu, ikan saya masukkan ke dalam kantong-kantong plastik bening sesuai jenisnya masing-masing dan di ujung plastik kanan kiri bagian bawah saya potong agar berlubang dan saya masukkan ke kantong plastik lagi yang utuh, ini dimaksudkan agar kandungan air yang ada di ikan bisa turun ke plastik yang utuh. Bingung gak ngebayanginnya? Ini mau cerita gulai nila merah kok merembet kemana-mana sih? Ayuk dong... mari....kita mulai aja acara masaknya.

Bahan-bahannya :
  • 1 ekor ikan nila merah agak besar, saya potong jadi 2 bagian.
  • Jeruk nipis.
  • Santan agak kental secukupnya
  • Daun kemangi
  • 4 buah cabe rawit setan utuh
 Untuk Bumbu yang dihaluskan adalah :
  • 5 siung bawang merah 
  • 3 siung bawah putih
  • 3 butir kemiri
  • Kunyit
  • Jahe
 Untuk bumbu diatas, saya goreng dulu sebentar sebelum dihaluskan.

Setelah bumbu tersebut dihaluskan, tambahkan : 
  • 6 buah cabe kriting (yang sudah di rebus, dan dihaluskan bersama bumbu)
  • Merica bubuk
  • Lengkuas
  • Daun Salam 
  • Daun Jeruk
  • Sereh yang sudah digeprek.
Sekarang kita bahas step by step nya :
  1. Setelah ikan dipotong, lumuri dengan air jeruk nipis.
  2. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan sampai harum.
  3. Masukkan Lengkuas, daun salam, daun jeruk dan sereh.
  4. Masukkan santan.
  5. Setelah santan mendidih, masukkan ikan.
  6. Tunggu sampai ikan setengah matang, masukkan cabe rawit utuh.
  7. Setelah matang, sebelum diangkat, masukkan daun kemangi.
  8. Siap dihidangkan. 
  9. Pada saat menghidangkan, taburi dengan bawang goreng.
Sampai kantor, setelah saya sarapan, saya sms ke pak suami, "Mas, gimana sarapannya, enak gak?"
Dan balasan dari pak suami cukup singkat, apa jawabannya : 
"ISTIMEWA"
This is a great statement, Sayang HP saya tidak bisa meng-capture sms-nya. Tapi suweerr, serius, saya gak bo'ong. 

Dan malam harinya, pak suami cerita, katanya tadi pas pak suami sedang sarapan di pantry, ada salah satu rekannya bertanya, "Beli sarapan dimana pak Kus? Kayaknya sedep banget dah...." 
Dan jawaban pak Suami, "Bekal dari istri pak, masak sendiri bawa dari rumah."
Aw...So Sweet deh suamiku... Trimakasih ya...Saya jadi makin semangat ni di dunia masak-memasak. Selamat Mecoba :)

NB : Maaf tidak ada fotonya sama sekali, karena saya buru-buru, harus siap jam 05.45 pagi. Soalnya Suami saya berangkat kerja jam 6 teng.