Rabu, 25 Juni 2014

PENYAKIT HATI

Beberapa hari yang lalu, siang-siang, ada salah seorang teman saya ketika dulu saya masih mengabdi di Kit Lontar. Dia mengajak saya untuk menghadiri acara pernikahan teman kami di daerah buah carica. Dalam hati sebenarnya pengen ikut sie...tapi...nanti dulu lah, coba tanya pak suami dulu, boleh atau tidak, atau jangan-jangan nanti ada barengan acara juga di semarang. Sembari ngobrol, aku coba tanyakan kabar teman2 lain yang masih sekantor dengan temanku itu. Ada satu teman yang tidak bisa ikut serta juga karena kabarnya sedang hamil anak kedua. Alhamdulillah, aku ikut senang. Tapi sepintas muncul perasaan yang gimana ya...semacam iri di dalam hatiku...Seandainya saja....Ah, sudahlah... Ya Allah...betapa sulit sekali untuk belajar menata hati dan menghilangkan penyakit hati ini. Ini hanya akan terus menggerogoti hatiku dimana aku juga sedang belajar ilmu menjadi insan yang pandai bersyukur. Apalagi belajar ikhlas, itu sangat suliiiittt sekali. Untuk sekedar ngomong sih gampang ya...tapi untuk mengaplikasikan ilmu ikhlas dan syukur di dalam kehidupan kita sehari-hari itu tidaklah mudah. Saya dan pak suami masih sama-sama belajar tentang hal tersebut dan akan saling mengingatkan. Semoga kita semua Insya Allah bisa menjadi pribadi yang pandai mensyukuri nikmat Allah.

Nyadran berkesan

Bulan ramadhan sebentar lagi tiba. Menurut adat di kampung halamanku, sebelum ramadhan ada acara "Nyadran". Pengertian nyadran adalah salah satu prosesi adat jawa dalam bentuk kegiatan tahunan di bulan ruwah (sya’ban), dari mulai bersih-bersih makam leluhur, masak makanan tertentu, seperti apem, kolak, ketan dll bagi-bagi makanan, dan acara selamatan atau disebut kenduri. 
Hari sabtu kemarin tanggal 21 Juni, yang sebenarnya aku tidak berencana pulang / mudik (tadinya mau bablas mudiknya lebaran aja), di telpon lah jumatnya oleh Bapak untuk pulang ke Jogja.  Saat ditelpon siang itu belum aku putuskan karena aku harus tanya dulu ke pak suami karena kadang beliau sabtu lembur.
Akhirnya, Oke,, Sabtu jadi pulang...Kita rencana berangkat pagi-pagi untuk antisipasi macet di sekitar ambarawa. Nah, karena ada satu dan lain hal, akhirnya baru berangkat jam 8 dari ungaran. Perjalanan dari Ungaran sudah penuh sesak karena ada proses cor jalan / betonisasi di sekitar lemahabang. 
Mas, pelan-pelan aja ya.. pintaku. Namanya di jalan raya, walaupun sudah berhati-hati apa saja bisa terjadi. 
Ketika itu tepat setelah pertigaan ke arah temangggung, maju dikit, macetlah jalan disitu. Kebiasaan pak suami, "nlesep-nlesep" atau mendahului dari arah kiri. Ada bis Antar Kota Antar Provinsi, karena tidak sabar, pak suami nlesep dari sisi kiri, dari turun dari aspal asli. dan di pinggi aspal asli (aspal jalan yang udah jadi) ditaburi pasir dan batu kricak yaang belum diberi cairan aspal curah. Otomatis motor berjalan meliuk-liuk karena diantara pasir dan batu kricak yang masih tersebar. Ketika mau naik lagi ke jalan aspal asli, banmotor tidak bisa naik karena pasir dan kricak yg masih bersebara hingga akhirnya "Gubrak". Kami jatuh tersungkur. Untungnya, bis yang akan kami lewati tadi langsung menginjak pedal rem, ALHAMDULILLAH YA ALLAH....
Setelah itu, segeralah saya dan pak suami bangkit dan meminggirkan motor. kami duduk di teras rumah orang yang kayaknya tidak ada penghuninya. Minum air putih, dan ternyata lutut  kanan pak suami terbentur dan lecet. Untung tadi seperangkat kotak obat saya bawa. Segera kuusap dengan kapas yang dibasahi air terlebih dahulu, barulah kuoles betadhine di luka pak suami. 
Subhanallah....Alhamdulillah Ya Allah...Engkau beri kami keselamatan. Seiring perjalanan ke Jogja, tidak ada obrolan di sepanjang jalan. Hening... dan mata ini sama sekali tidak merasakan kantuk, hanya dzikir  di dalam hati yang menyertai perjalanan kami. Dan saya bisa merasakan, cara pak suami mengendarai motor pelan dan sangat hati-hati. Ya Allah..akhir nya sampai juga kami di rumah bapak, dan capekkk banget rasanya. Semoga perjalanan pulang besok selamat dan lancar. Amien...