Senin, 27 Februari 2017

Oseng Kembang Kates (Bunga Pepaya)

Selamat pagi...Good Morning...Long time no see :(
Hallo...Apa kabar teman-teman ? Apa kabar blog? Apa kabar semuanya pokoknya ☺........ Dan semoga semua baik-baik aja ya teman-teman.....peluk dulu, obat rindu :))  
Kali ini, sya ingin berbagi resep ndeso yang rasanya pahit tapi ngangenin... Apakah itu???
Kita bahas terkait pohon pepaya, selain daunnya pepaya biasanya dibuat tumis, bunganya pun bisa dibuat tumis lho, dan gak kalah enak juga.... Langsung aja yuk, kita mulai masaknya,

Oseng Kembang Kates (Bunga Pepaya)

Bahan :

1  bungkus bunga Pepaya (atau sesuai kebutuhan, klo disini biasanya udah bungkusan)
Bunga pepaya ditaburi garam terlebih dulu kemudian diremas-remas sampai layu dan cuci beberapa kali sampai bersih, dan masukkan sebentar di air mendidih, kemudian tiriskan dan cuci lagi. Ini dimasudkan agar rasa pahit di bunga pepaya ini berkurang.
Udang kupas secukupnya
6 butir bawang merah iris tipis
3 buah bawang putih iris tipis 
5 buah cabe keriting (karna saya kurang suka pedes)
Garam 
Gula merah
Saus tiram
Air secukupnya
Kecap (sesuai selera)
Salam laos secukupnya

Cara membuat  :
Tumis bahan yang sudah diiris (bawang merah, bawang putih dan cabe) sampai harum. Kemudian masukkan udang segar dan salam laos sambil terus diaduk. Kemudian masukkan bunga pepaya sambil terus diaduk, masukkan garam, gula, saus tiram dan sedikit air. Sambil terus diaduk dan koreksi rasa. Sekiranya sudah pas dan sudah matang, angkat dan sajikan. Oseng bunga pepaya ini bisa didampingi dengan lauk telur dadar maupun tempe goreng.



Okey...selamat mencoba ya teman-teman....

Rabu, 06 Mei 2015

GODHONG GLANDIR SAMBEL ASEM

Ya...Godhong glandir. Teman-teman tau gak apakah godhong glandir? Dalam bahasa jawa, Godhong berarti daun, Glandir adalah daun dari pohon ubi rambat. Saya baru tau di semarang klo ternyata ini bisa dimakan, karena pas saya masih di jogja dulu, gak pernah saya nemu godhong glandir diolah jadi menu untuk disantap.  Nah, kadang klo pas kami (saya dan pak suami) nginep di rumah ibuk mertua saya, kakak ipar saya sering banget bikin menu ini, ternyata eh ternyata, godhong glandir ini adalah menu favoritnya ibuk mertua saya, bahkan beliau nanam sendiri lho, supaya bila sewaktu-waktu pengen gak perlu nunggu tukang sayur, tinggal petik aja.  Tapi yang suka sama olahan godhong glandir di rumah ibuk ya hanya kaum perempuan saja, saya, ibuk dan kakak ipar.

Semalam sebelumnya, saya sempat nanya ke pak suami, gini ni :
Saya          :"Besok aku mau masak godhong glandir. 
                    Mas tau gak godhong glandir? "  
Pak Suami   :"Tauu...Bayam kan? "
Saya          :"Heh ??? !!! "
Aduh suamikuh...... Ya jelas bukan dong....!!!! Itu beda !!! Hal inilah yang membuat saya semakin bersemangat untuk memperkenalkan si glandir ini ke pak suami. Halah...iki opo to, maap, agak lebay ya? Piss :))

Berikut bahan-bahan yang diperlukan :

Ini glandir siap rebus dan tahu tempe siap goreng
  1. 1/2  ikat godhong glandir
  2. 3 siung Bawang merah
  3. 3 buah cabe
  4. 3 butir asem jawa
  5. Terasi
  6. Garam
  7. Gula jawa.
Step by stepnya kayak gini :
  1. Didihkan air, setelah itu masukkan godhong glandir dan taburi sedikit garam. sekiranya sudah empuk, angkat dan tiriskan.
  2. Haluskan bawang merah, cabe, terasi, garam dan gula jawa. Kemudian masukkan asemnya. 
  3. Aduk aduk rata dan siap dihidangkan.
Simple banget kan? Untuk pendamping si glandir ini saya goreng tahu dan tempe yang dibumbui dengan rendaman ulekan sedikit ketumbar, bawang putih dan garam. Oh ya, sama saya tambahin mentimun ding. Super duper Yummyyyy lho ... !!!
Ini porsi makan kami berdua
Ketika mulai makan, pak suami bilang dikit aja sambelnya. Tapi setelah makan selesai, sambel dimangkok itu ludes dilalap barengan sama kerupuk. Gak cuma itu aja, sudah ada pesanan menu glandir lagi untuk hari minggu besok. Emm...Ternyata bikin nagih kan Pak suami? 

ORAK-ARIK BUNCIS

Halluwwwww.....How are you? Cieh....gaya amat si'? Semoga selalu baik dan sehat ya teman-teman. Oh ya, saya akui akhir-akhir ini saya jarang posting, karena ya...agak repot akhir-akhir ini. Kemarin pas long weekend aja, berasa kurang :)), jumat di rumah ibu, sabtu beberes, minggunya mulai start keluar dari rumah jam 6.15 pagi sampe rumah lagi untuk istirahat jam 18.15, dimulai dengan menghadiri acara ijab kabul teman eh..sahabat yang sudah dianggap seperti adek oleh pak suami, trus ke rumah kakak ipar, trus menghadiri resepsi di Undip Tembalang, trus takziyah.....dan.....baru masuk rumah lagi pas adzan maghrib. Fyuuhhhhh...itu rasanya....cappeeekkkkkk  beeuuttt......

E...tapii......tetep ya, saya tetep siapin menu untuk makan malam kali ini, yang simple dan mudah (sodaraan kayaknya simple dan mudah..hihihihi....). Dan pilihan menu kali ini simple banget karena stok belanjaan di kulkas tinggal beberapa aja, ada lele yang sudah berbumbu, dan sayurannya tinggal buncis, daun pisang, brokoli dan sayuran penunggu setia kulkas, yaitu wortel, tomat, loncang, cabe dan penunggu setia lainnya seperti telur dan duo bawang yang sudah dikupas dan dicuci. 

Baiklah...kita masak orak-arik buncis aja yuk, udah lama juga gak masak orak-arik sama nyambel tomat dan goreng lele. Emmm......kayaknya sedap.... 

Bahan-bahannya yaitu :
  1. 9 batang buncis, iris tipis serong
  2. 1 buah wortel, potong seperti batang korek api
  3. 1 butir telur
  4. Loncang
  5. Bawang merah goreng
  6. Sedikit minyak goreng
  7. Sedikit air
Bumbunya :
  1. Merica
  2. Bawang putih
  3. Sedikit kunyit
  4. Garam secukupnya
  5. Gula pasir secukupnya.
Langkah-langkahnya :
  1. Semua bumbu diatas dihaluskan.  
  2. Masukkan telur dan orak-arik
  3. Masukkan wortel dan buncis
  4. Tambahkan sedikit air, garam, gula pasir
  5. Tunggu sebentar dan jangan terlalu matang
  6. Angkat dan sajikan. Taburi dengan bawang merah goreng.
 
Gimana, simple kan? Sebagai teman orak arik buncis ini, saya goreng ikan lele yang saya goreng garing jadi pas digigit tu bunyi kriuuukkkk.... dan sambel tomat. Alhamdulillah...walaupun menu sederhana gini, pak suami tetap semangat melahapnya. Dan tentunya juga membuat saya lebih semangat lagi untuk belajar di dunia masak memasak. 

Rabu, 15 April 2015

DUA SISI

Hidup ini bagai 2 sisi mata uang logam, ada suka ada duka, ada siang ada malam, ada kiri ada kanan, ada atas ada bawah, dan selanjutnya yang lain. Kehidupan ini juga bagaikan roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Ketika kita berada di atas dan kita diberikan nikmat oleh Allah SWT yang begitu berlimpah, saya pribadi terus terang merasa takut. Ya, takut sekali. Takut bila nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarga ini akan menjadikan kami orang yang sombong dan takabur, takut menjadi orang yang selalu merasa kurang ketika telah diberikan kenikmatan dan takut akan selalu mengejar duniawi semata hingga menomorsekian-kan urusan kehidupan di akhirat kelak. Alasan yang terkahir itulah yang paling membuat saya takut. 

Kehidupan di akhirat...Bekal saya untuk hidup disana masih jauh dari kata cukup, cukup? Adakah batas cukup untuk mencari bekal untuk hidup di akhirat kelak? Sedangkan amal ibadah kita sudah terputus apabila kita sudah meninggalkan dunia fana ini untuk selama-lamanya. Namun ada amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau kita telah meninggal yaitu :
1. Sedekah jariyah:
2. Ilmu  yang bermafaat;
3. Anak yang sholeh / sholehah.

Saya sendiri kadang "terlena" akan nikmat  dan rezeki dari Allah SWT yang berlimpah. Memang sudah mengucap syukur alhamdulillah, tapi hanya sekedar di lisan saja dan saya juga kadang masih merasa hanya sekedar rutinitas harian saja dalam menjalankan perintah Allah untuk sholat lima waktu dalam sehari semalam. Padahal, di saat sholat itulah, kita bisa mengucapkan syukur atas segala nikmatMu, kita bisa semakin mendekatkan diri kepada sang Pencipta, dan yang terpenting kita bisa memohon apapun untuk kebaikan kita. Apapun... Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT, karena Dia-lah Sang Maha Segalanya. 

Allah Maha Baik, Dia memberikan jalan lain agar kita bisa mendapatkan pahala selain dari sholat. Kita bisa berpuasa dan ibadah sunnah lainnya yang telah Allah terangkan di dalam pedoman kita yaitu Al-quran dan Hadist; Ngomong-ngomong soal puasa, saat ini saya merasa rinndduuuu sekali puasa sunnah bareng engkau wahai suamiku...... Ayok lah...kita perbanyak amal ibadah kita untuk meraih pahala dan ridhoNya, walaupun kemarin sempat malas kan ya?  Saya jadi ingat ada suatu kutipan, marilah kita beribadah seperti kita akan mati esok pagi dan marilah kita berusaha seperti kita akan hidup seribu tahun lamanya.

Menjelang enam tahun usia pernikahan kami, Allah SWT belum menitipkan amanah anak kepada kami. Tapi kami yakin, suatu saat nanti Allah pasti menitipkan putra atau putri yang sholeh / sholehah kepada "Keluarga Purnomo" ini. Kami yakin itu, dan kami selalu ber-khusnuzon kepada Allah akan hal itu, bukankah Allah beserta prasangka hambanya? Tidak lupa pula selain berdo'a kita juga wajib berusaha, dan Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada dalam diri mereka.

Jadi, marilah kita bersama-sama semakin mendekatkan diri kepada Allah dan selalu berdo'a agar selalu dalam bimbinganNya. Selalu diberikan kemudahan dalam segala urusan dan pekerjaan kita, diberikan kemudahan dalam mencari rizki halal dariMu, diberikan kesehatan dan panjang umur sehingga kita bisa beribadah sampai maut datang menjemput dan mengucap :

Sumber gambar dari sini

 kemudian menutup mata ini untuk meninggalkan dunia fana selama-lamanya.

SATE UDANG DAN OSENG TAUGE

Jadi ceritanya saya lagi malas belanja ke warung sayur, gak tau kenapa, pokoknya malas untuk keluar rumah, nunggu tukang sayur aja yang lewat nanti biasanya sie sekitar jam 8-an. Di mas tukang sayur pun tinggal udang, tauge, kacang panjang dan beberapa sayuran lain. Akhirnya udang dan tauge saya ambil, habis ini masih bingung juga, udangnya mau dimasak buat lauk, digoreng? bosen....A...HA....!!!! Dibakar alias dibikin sate aja kali ya, sebagai variasi olahan udang biar pak suami juga gak bosen. Untuk mengolah udang, biasanya udang saya kupas bersih tanpa ada cangkang/kulit luar dan kepalanya serta kaki-kakinya, jadi tinggal dagingnya aja. Soalnya klo gak bersih kadang bibir ini rasanya gatal klo habis makan olahan udang. 

Oh ya, di dalam udang ini, banyak sekali kandungan gizinya, bisa dilihat tabel berikut.
  Okelah...kita bikin sate udang aja yuk..Berikut bahan-bahannya :
  • 1/2 kg udang segar ukuran sedang. bersihkan dan kupas, biasanya saya kupas bersih, jadi tinggal dagingnya aja, cuci bersih dan beri perasan jeruk nipis lalu cuci kembali dan bumbui dengan merica dan bawang putih bubuk serta sedikit garam. Diamkan kurang lebih 15 menit.
  • 1/2 sdt ketumbar
  • 5 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • garam sesuai selera
  • gula jawa secukupnya
  • kecap manis
  • 1 sdm mentega.
Langkah-langkahnya :
  1. Haluskan ketumbar, bawang merah, bawang putih, garam, gula jawa.
  2. Setelah lembut, tambahkan kecap manis dan margarin. 
  3. Aduk rata.
  4. Susun udang yang sudah berbumbu dengan tusuk sate.
  5. Guling-gulingkan ke dalam bumbu yang tadi dihaluskan.
  6. Panggang udang dan bolak-balik, jangan sampai gosong tapi juga harus matang.
  7. Angkat, taburi dengan merica bubuk, irisan bawang merah dan irisan tomat.
Ini dia sate udang yang udah siap santap,

Itu
Teman-teman agak heran ya, 
kenapa ujung tusuk sate bagian yang dipegang agak gosong? 
Hehehe...itu karena saya manggang nya pake wajan teflon biasa, 
ujung yang satunya udah mentok ke pinggir teflon.
*mulai searching alat dapur untuk keperluan seperti ini :))

Oke....kita lanjut ke menu berikutnya, kita olah tauge-nya ya...

Bahan-bahannya :
  •  2 bungkus tauge panjang, siangi akarnya.
  • 5 lonjor kacang panjang, potong-potong + 2 cm
  • 2 potong tahu putih, potong kotak-kotak.
Bumbu-bumbunya :
  • 3 siung bawang merah ukuran agak besar
  • 2 siung bawang putih
  • 5 buah cabe merah
  • garam
  • gula pasir (pake gula jawa juga boleh) 
  • Biasanya saya tambahin saus tiram.
  • Daun salam dan lengkuas. 
  • Sedikit air
  • sedikit minyak untuk menumis
Yuk, mulai kita masak tumis taugenya,
  1. Panaskan minyak, tumis bawang merah, bawang putih dan cabe.
  2. Setelah layu, masukkan daun salam dan lengkuas.
  3. Masukkan kacang panjang dan tahu, tambahkan sedikit air.
  4. Tambahkan garam, gula pasir dan saus tiram.
  5. Setelah mendidih dan kacang panjang agak matang, masukkan tauge.
  6. Aduk dan biarkan tauge sedikit matang. Angkat dan hidangkan.
Nah....selesai sudah acara memasak kita kali ini, ini dia menu yang telah kita masak tadi...TTTTAAAARRRRRAAAAA.....


Gimana, tertarik untuk mencoba menu ini? Eits...ada lagi yang gak boleh kelupaan di meja makan kami, yaitu kerupuk. Dia harus selalu ikut nangkring di meja makan, soalnya si kerupuk ini  favoritnya pak suami. 

Jumat, 13 Maret 2015

NASI BOX = SEGO GUDANGAN

Setelah tadi saya posting mengenai kegalauan saya, sore ini kita akan bahas mengenai acara weekend minggu kemarin, late post gak papa lah ya.... Lha kan ini udah mau weekend lagi. Jadi ceritanya, saya pengen masak nasi gudangan atau urap. Tapi...karena rakyat di rumah saya hanya dua orang, yaitu saya dan pak suami, jadinya bikin sekalian agak banyak untuk hantaran ke ibuk mertua dan kakak-kakak ipar, karena sudah agak lama juga kami gak berkunjung.

Untuk bahan urapnya, saya pakai :
  • 1 ikat bayam
  • Kacang panjang
  • Tauge (saya potong akarnya / buntutnya)
  • wortel (iris seperti batang korek api)
  • Daun kemangi
  • Mentimun 
Semua bahan diatas, setelah disiangi, dicuci lalu direbus. Pada saat merebus bayam dan kacang panjang, saya kasih sedikit garam supaya warnanya tetap hijau segar. Untuk kemangi dan mentimun cukup disiangi dan cuci bersih ya. Kemudian sisihkan.

Lalu untuk bumbunya :
  • 1 butir kelapa muda parut (tapi jangan terlalu muda, pokoknya yang pas buat bumbu urap, biasanya penjualnya lebih tau)
  • 3 buah cabe rawit 
  • 2 buah cabe merah
  • bawang putih
  • kencur
  • daun jeruk
  • garam
  • gula jawa
  • terasi
Haluskan semua bumbu di atas (kecuali kelapa) lalu campur dengan kelapa parut. uleni sampai tercampur rata. cek rasa. lalu bungkus dengan daun pisang dan kukus hingga matang. 
*yang sepiring sama tahu dan tempe itu ikan asin
Sebagai teman dari urap, saya bikin bacem tahu tempe, telur rebus, ikan asin dan kerupuk. Setelah semua matang, tinggal disusun deh di kardus makanan, dan siap meluncur ke rumah ibuk dan kakak-kakak saya.
Saya tambahin pisang sebagai buahnya.
Nah, ini kerupuk dan ikan asinnya.
Maaf ya teman-teman, fotonya kurang oke ya? Mohon dimaklumi aja deh, namanya juga masih belajar, gak papa ya...? Udah sore aja nih, saya siap-siap pulang dulu ya teman-teman, sampai jumpa di posting selanjutnya dan semoga teman-teman tidak bosan membacanya.

Kamis, 12 Maret 2015

BAHAGIAKAH DIA?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Setelah memutuskan, "Ya...Aku bersedia menjadi istrimu mas...", itu menurut saya, merupakan suatu kesepakatan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita. Seiring berjalannya waktu, kita eh...saya (lebih tepatnya) akan lebih tau apa saja tentang seseorang yang sekarang telah menjadi suami saya, baik wataknya, kebiasaannya dan prinsip hidupnya mungkin, serta hal lain tentang dirinya. Bisa jadi hal tersebut kadang tidak sesuai atau mungkin bertentangan dengan kebiasaan atau prinsip hidup kita...eh...saya maksudnya. Yang saudara kandung saja, bisa beda watak kan?

Keluarga yang damai, tentram dan harmonis adalah idaman kita semua pastinya. Tapi ada kalanya kita tidak seiring sejalan dengan pasangan kita itu adalah hal yang wajar. Perbedaan yang sebenarnya adalah warna di dalam rumah tangga, janganlah selalu kita posisikan sebagai perbedaan, namun sebagai warna yang akan menghiasi rumah tangga kita sehingga menjadi indah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang kita eh..saya pribadi merasakan jengkel, marah dan sedih ketika maksud dari apa yang saya sampaikan untuk teman atau suami saya misalnya, ditanggapi dengan ketus atau marah. Biasanya saya hanya diam dan ujung-ujungnya mewek..hiks...saya bukanlah orang yang cukup berani dan tangguh untuk mengungkapkan atau menyangkal perkataan orang lain yang mungin tidak sesuai dengan hati saya. Entahlah...dari dulu...Saya mencoba untuk belajar lebih berani tampil, tetep saja susah. Inilah salah satu alasan saya mempunyai blog ini. Jadi, apa yang saya rasakan dapat saya sampaikan dan tulis di blog ini.

Tujuan menikah diantaranya adalah memperoleh keturunan. Hampir enam tahun kami menikah, namun sampai dengan hari ini, Allah SWT belum menitipkan momongan di dalam rumah tangga kami. Saya positive thinking saja, Allah akan memberikannya di saat yang tepat. Saya yakin itu dan kalau Allah SWT sudah berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa menghalangi. 

Nah...inilah pokok pembahasan di posting kali ini, selama hampir 6 tahun menikah dengan saya, bahagiakah suami saya? Terus terang, bukan kali ini saja pertanyaan itu muncul di benak saya, sudah dari dulu bahkan. Tapi, lagi lagi...saya tidak punya cukup keberanian untuk bertanya kepada pak suami. Saya sadar, banyak sekali kekurangan-kekurangan saya, sehingga memunculkan pertanyaan itu di benak saya. Saya belum bisa menjadi seorang "ibu" dari anak kita, saya terkadang masih cerewet (suami saya menyebut dengan istilah ceriwis), saya yang masih kurang sabar, banyak deh... tidak perlu saya tulis satu per satu. Sabar, itu yang paling susah. Sebenarnya maksud saya cerewet disini adalah untuk kebaikan kita bersama. Seperti contohnya, saya lebih suka mengembalikan barang kembali ke tempat semula setelah saya pergunakan. Itu dimaksudkan untuk apabila nanti nyari lagi kan gampang tuh, gak bingung-bingung sebelumnya dipake siapa dan ditaruh dimana. Nah, kalau menurut orang lain beda lagi mungkin. Contoh lain misalnya, setelah kita mandi, pakaian kotor langsung saya angkat dari gantungan di kamar mandi dan saya letakkan di tempat cucian. Ini bertujuan agar tidak menjadi tempat nyamuk dan kamar mandi jadi bersih. Tapi tidak semuanya berpikiran seperti itu, disinilah kadang saya memberikan masukan kepada teman atau saudara saya. Sudah pasti, responnya tidak seragama atau sama dengan saya, ada yang bilang itu ribet, ada juga yang mengatakan bahwa itu kikrik (hampir sama kali ya, ribet sama kikrik). Ya mungkin mereka punya alasan sendiri. Hal ini kalau saya sampaikan ke pak suami, dia punya jawaban sendiri juga. Tapi terus terang, teruss terang....saya jengkel juga kadang. Seberapa beratnya sih, membawa pakaian kotor keluar dari kamar mandi?

Selanjutnya, cara berbicara atau cara menyampaikan sesuatu hal antara satu orang dengan orang lain itu berbeda-beda. Tapi yang perlu kita ingat, sebelum kita berucap, kita pikirkan dulu, apakah perkataan kita pantas? Apakah perkataan kita menyinggung orang lain? perlulah kita timbang - timbang dulu sebelum berucap. Jangan sampai membuat orang lain sakit hati. Nah, ketika sakit hati seperti itu, lagi deh..mewek dan saya ngumpet, Dada saya ini serasa penuh sesak dan sakiiit banget. 

Yang terpenting adalah, jangan pernah kita lepas untuk selalu berdo'a, beristighfar dan memohon keridho'an Allah di setiap perjalanan hidup kita. Jangan lupa juga kita untuk selalu besyukur atas apa yang telah kita peroleh hingga hari ini. Semoga engkau merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita wahai suamiku. Dan Insya Allah kita akan selalu berjodoh hingga di Surga-Nya kelak.   Amien.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Rajabasa, 12 Maret 2015 
Istrimu - Bu Pur.